Audio

Missing The Old

«verse 1»
Year by year
We’re just two lost souls
My life’s a mess
And then get the worst

«verse 2»
I call you out
You say how i dare,
I can’t show it
So i secretly worried

«pre-chorus»
Can u tell what i’ve to do
Why the blue skies got a pain
Can i make it better for us
Or just let it go

«chorus»
Cause i miss u,
I miss the old u, babe
I dare cause i care
All of you.
.
Cause i miss me,
I miss the old me
I miss the old i used to be

Consumer Behavior Summary

Consumer Behavior Summary

Kania Eka Safira
G64150024
Departemen of Computer Science (www.cs.ipb.ac.id)

Faculty of Mathematics and Natural Sciences (www.fmipa.ipb.ac.id)

Bogor Agricultural University (www.ipb.ac.id)
Consumer Behavior Class IKK233
Department of Family and Consumer Sciences (www.ikk.fema.ipb.ac.id)
College of Human Ecology (www.fema.ipb.ac.id)
Bogor Agricultural University IPB (www.ipb.ac.id)

Lecturers:
Prof Dr Ir Ujang Sumarwan, MSc (www.sumarwan.staff.ipb.ac.id, www.Ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id, sumarwan@mb.ipb.ac.id)
Dr. Ir. Lilik Noor Yuliati, MFSA
Dr. Ir. Megawati Simanjuntak, MS
Ir. Retnaningsih, MS
Ir. Md Djamaluddin, MSc

Read more

Yang Tertinggal

Yang Tertinggal

Tatapanku kini biaskan kegalauan
Melayang-layang pikiran kusut
Menandakan terdepaknya khayalan
Semata khayalan

Jeritan hati jeritan asa
Asa demi asa tergugat
Ternoda ilusi yang ada

Yang tertinggal hanya angan
Angan-angan semu belaka
Bagai mimpi yang tiada bertepi

Mimpi-mimpi itu kian mengusik
Mengusik lamunan yang berkepanjangan
Sebabkan kegalauan kian merambah
Hingga menggayut asaku

Nganu tentang Cinta

Nganu tentang Cinta

“Cinta murni lebih baik masuk keranjang sampah. Tak ada. Sesuatu yang dihayal-hayalkan.”-SHG, aktivis, kritikus, sejarawan, moralis yang mati muda menjomblo.

Benar rupanya, cinta itu tidak ada. Berulang kali berfilsafat mengenai cinta, tak ditemukan sedikitpun kemurnian dari cinta yang suci. Hal ini dipertegas oleh Soe Hok Gie, bahwa Cinta=Nafsu, titik!

Hanya nafsu kelamin belaka yang membumbui sebuah cerita manis hingga terlahirlah sebuah perkawinan. Perkawinan yang sebenarnya justru merusak kesucian yang menuntut pemerannya lepas dari idealisme, menuntut perubahan karena embel-embel cinta. Itu manusiawi dan itulah yang menghadirkan pesimisme dalam hidup yang membuatku merindukan cinta dari langit, yang tak menuntut ini itu.

Filosofi Pasir Kucing

Filosofi Pasir Kucing

Pernah lihat pasir kucing?

Butiran pasir yang diperuntukan hanya untuk taik kucing. Pasir ini dibuat dengan seindah mungkin. Tak jarang warnanya mencolok sehingga menggoda mata untuk membelinya. Terkadang harumnya juga seperti parfum branded mahal, membuat kita bergegas membelinya. Dengan begitu banyak keistimewaannya, tak heran harganya bisa selangit. Mahal bukan kepalang.  Read more

Masih Dipertanyakan

Masih Dipertanyakan

bonjour,

Seseorang pernah mengingatkan ku agar tidak berlebihan dalam melakukan sesuatu, termasuk mengagumi mu. Awal sederhana yang harusnya kupatuhi agar tak berlanjut ke tingkat selanjutnya, menyukaimu. Mungkin saat jari-jari ini mengetikan rantaian kata, aku sedang dalam perjalanan menuju ke tingkat yang selanjutnya. Atau mungkin saja sebenarnya sudah sampai sambil harap-harap cemas dengan kelanjutannya, aku tak tahu.

Read more

Batasan Tak Berwujud

Batasan Tak Berwujud

“Setiap hal pasti memiliki batasan. Dan Tuhan tak pernah suka sesuatu yang melewati batas.”

Sudah terlalu jauh rasanya kita bermain. Sampai-sampai lupa waktunya pulang. Bahkan saling menemukan diri kita tersesat seperti kereta tanpa tujuan. Lalu tanpa arahan saling bertatap dan berhenti di taman tak bertuan. Berdua mencari kenangan gadis kecil yang pernah bertemu dengan pria kecil saat kuliah di kota hujan.

Masih hangat dalam ingatanku serpihan memori itu. Ya, bagiku sebuah pertemuan adalah awal dari sebuah kenangan yang mungkin tidak akan mudah dilupakan. Dalam diam, aku mulai jatuh cinta dengan peta perjalanannya. Tanpa sadar jemari ini akan mencatat semua cerita tentangnya. Bahkan dengan sengaja menambah beberapa hal sehingga nampak lebih sempurna. Senyuman, kedipan mata, cara menyapa, lambaian tangan, cara berjalan sampai kerutan yang ada di setiap ekspresinya pun tergambar jelas.

Aku tak pernah tahu bayanganmu tentang pertemuan sederhana itu. Cara pandang yang berbeda membuat aku tak sanggup menerka isi memori itu sehingga terus berspekulasi sendiri. Meskipun begitu, aku sadar terkadang hidup memang tak seperi yang kamu sangka.

Keterlaluan memang yang kita lakukan. Cukup kekanak-kanakan bagi seseorang yang kini berusia hampir seperlima abad untuk bermain-main dengan “perasaan” hingga mengabaikan batasan.

Terlalu jauh, sudah waktunya pulang. Cukup sampai disini permainan antara dua insan

Serpihan yang terabaikan

Serpihan yang terabaikan

Screenshot_2016-05-06-20-56-02_1462542993467

Bekasi

Rangkaian 6 huruf yang menggambarkan kota kecil pinggiran Jakarta, tempat rantauan orang-orang kampung mencari nafkah. Berbagai suku bisa kau temukan disini, buangan ibukota katanya. Mirip nusantara kecil dengan pribumi dari berbagai suku bangsa. Itulah tempat dimana aku dibesarkan, setelah terbuang dari kejamnya hiruk pikuk ibukota.
Meskipun kau terletak dipinggiran sana, kau tetap menjadi primadona kami. Buktinya Stasiun Manggarai, tepatnya peron 4 dengan tujuan akhir bekasi ini menjadi saksi bisu bahwa kau adalah idola kami. Tak sama dengan peron jurusan lainnya, peron ini tak pernah sepi pengunjung. Salut! Semakin larut, makin banyak pula sepasang kaki-kaki yang ingin menginjak tanah pinggiran ibukota ini. Harus siap betis tiap kali ingin menemuimu. Memang tak semua setujuan, bekasi. Bukan idola seutuhnya. Tapi saat sampai di Bekasi, ratusan langkah kaki selalu menemani sepasang sepatu ini selalu.

Lucunya negeriku!

Lucunya negeriku!

IMG_20160430_124000_HDR_1462059889356

Hari Sabtu, kanoy diberikan pertunjukan oleh segerombolan orang yang menurut kanoy cukup kreatif!

Lucunya, mereka mengatasnamakan SIGAB untuk meminta-minta uang. Hanya dengan mengenakan topi dan rompi bertuliskan “SIGAB” serta membawa amplop cokelat dan kertas yang ditempeli foto-foto bencana yang dilaminating, mereka memanfaatkan belas kasihan orang lain.

Yang anehnya lagi, mereka hanya menerima uang tunai. Padahal SIGAB yang sesunggunya dapat menerima sumbangan baju layak pakai.

Entah harus tertawa atau justru malu dengan tingkah laku segerombolan orang ini. Atau mungkin harusnya kanoy bangga? Karena ternyata masih ada orang indonesia yang cukup kreatif. Mereka menggunakan konsep baru untuk menarik simpati orang dengan pakaian dan perlengkapan yang mereka kenakan bak sedang pawai mereka berlenggak-lenggok di hamparan toko-toko dekat Bekasi Junction.

Kesalahan yang Sama

Kesalahan yang Sama

Hari ini, masih sama.

Masih sedingin hari kemarin, meski matahari tetap bersinar seperti hari biasa.

Masih tetap turun naik, suhu badan karena ulah virus itu.

Pulang tinggal pulang, tak selama 24 jam lama perjalanannya. Bahkan cukup sepertiga hari kamu sudah sampai. Namun tak semudah saat kamu mengatakannya, tanggung jawabku dipertaruhkan. Harga diriku yang menjadi taruhan. Sedangkan di sisi lain, kesehatanku juga semakin terabaikan.

Semakin kau perparah lagi dengan menghilangnya keberadaanmu. Bila tau begini, seharusnya pelangi itu tak ku biarkan menghilang lagi. Si bunga lili tak ku biarkan layu kembali

Cukup tanya kabar, bisakah?

Sia-sia ku ungkit hari ini, esok pun pasti sama hanya orangnya yang berbeda dengan penyesalan yang serupa.

Aku Berguna (?)

Aku Berguna (?)

Pernahkah kamu merasa tidak berguna?

Merasa sedikitpun tidak berarti selama di dunia?

Rabu kemarin, aku pergi berkeliling kampusku. Bukan karena mau, tapi terpaksa. Awalnya setengah hati memang, tapi setelah berjalan cukup jauh aku bahagia. Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari sekedar “jalan-jalan” kali ini. Sayangnya, kami tidak diperbolehkan membawa handphone. Jadi tidak bisa mendokumentasikannya.

Satu hal yang sangat mengganggu selama perjalanan adalah bau tai kambing. Memang rute yang kami lewati adalah kandang-kandang fakultas peternakan, jadi selama perjalanan bau itulah yang setia mendampingi. Bau yang menurut kita mengganggu. Bau yang sangat dihindari banyak orang. Tapi begitu berarti bagi anak peternakan, “bau uang”! Benar, menurut mereka itu bau uang. Jadi terpikir olehku, sungguh bermanfaatnya makhluk ruminansia ini. Sampai-sampai hasil pembuangannya pun bernilai jual tinggi.

Berpikirlagi? Apakah aku seperti itu? Apakah tubuh ini berguna selama di dunia? Apa saja yang pernah aku perbuat hingga orang menganggap aku ada? Bermanfaatkah aku?

Seketika mendapat pencerahan dari salah satu dosen biologi tercinta, Bapak Windra yang merupakan lulusan SITH ITB jurusan yang sempat aku idam-idamkan, dulu.

“Janganlah bersedih hati kalau kalian merasa tidak berguna di dunia ini, karena ketika kalian mati dan diurai oleh dekomposer, kalian menjadi nutrisi bagi tanaman.”

Agak konyol, tapi benar juga.

Setuju pak!

 

sekian,

Tentang kata “Memendam”

Tentang kata “Memendam”

Teruntuk kata “memendam” yang kau permasalahkan,

Memang benar jika aku memendamnya. Tak salah karena memang perasaan yang kupendam. Tapi kesalahan besar jika kau menganggapnya cinta. Kata “cinta” yang tergolong sakral, tak semudah itu kupercayakan kepadamu. Hanya sampai batas penasaran tepatnya si perasaan. Harapannya tak berkembang lagi. Bukan karena putus asa, bukan pula karena keraguan. Memang jalannya yang tak mengarah kepada cinta.

Cukup sekian pembelaan dari hati, yang sempat tak terima.